[ RUBRIK KONTRIBUTOR ]


Hai Magznia! Udah liat OOTD kece ditas 'kan? Yup, tiga OOTD terpilih bulan ini adalah :

Margaretha: Perpaduan warna yang gak bikin sakit mata, kalem, dan tetap gak meninggalkan esensi utama dalam berpakaian yaitu kenyamanan. ❤️

Livana: Outfit Livana sangat cocok untuk Januari yang masih sangat dingin meski tak sedingin sikap dia ke Magznia. XD

Alika: Cerahnya ciwi-ciwi Setra. Manis sekali. Ditambah outer yang menambah kesan powerful. ❤️

DAN HIRAP
[Oleh : B.P]

Aku melihatnya:
lanskap yang pias
perkawinan pilu dan sendu dan rindu
dan ratapan aspal yang risau
mereka merindu matahari
ini musim kesekian hujan tak bertepi
dan jingga memburam jadi keping nostalgia
sebab malam membebat cerah
di sudut cakrawala yang entah

Aku mendengarnya:
langit akan penuh: panggilan
suara musik: orkestra dan bahasa puisi
dari perut para ibu yang merintih dan darah yang menggelegakkan doa
terbang terabaikan bersama sekumpulan bangkai anai-anai
berdatanganlah sahutan: seberkas titik di ujung
dibawanya cahaya dan lega dan nyala
dari bara yang tercetus tetiba

Aku merasakannya:
mata telinga terhempap tuli buta
yang ada tinggal rasa
dalam dekap jeda sang waktu
kemudian timbul tenggelam bebunyian
serupa tarik lepas kesiap
debar dada terbakar
bibirku dikecup cahaya yang khianat
kakiku menghentak sekarat
inti api semesta tambah berkobar
ia membentangkan sayap
yang silau dan kilap
mengawali lenyap
dan kami lesap
dan hirap

-----

HINGGA JINGGA
[Oleh: Kayu]

Lalu pandanglah,
Segumpal awan menari-nari di angkasa
Melantunkan melodi masa muda
Berkisah tentang senyum cerah
Sedari pagi, hingga senja

Dan saksikan,
Sehelai daun yang melayang bahagia
Pada angin tinggi yang menerbangkannya
Pada tangkai tipis bebas berkelana
Meski tak bersayap,
Api semangat membara memberi kuasa
Sedari pagi, hingga senja

Lihatlah,
Pada si cantik di pematang senja
Sedikit nila, semburat jingga
Selalu, tersenyum kaya asa
Sedari pagi, hingga senja

-----

CINTA MATI
[Oleh : Pung]

nona, biar kubawa ke tepi langit
lalu saksikan aku jatuh ke hamparan bunga matahari
pengharapan, keindahan, semua meracuni pelupuk mata
di naungan irisku hanya ada cahayamu
sepertinya, korneaku didesain untuk menangkapmu
bagaimana?
sudah lihat mekarnya sayapmu bersamaku?
mari ke danau, langit cerah sekali hari ini
api dalam dadaku juga, jauh dari temaram
aku cinta
aku cinta
tapi nona...
rona jingga di wajahmu jadi merah
aku berada di hamparan bunga mekar yang semarak
pahit sekali, tiap langkahku membunuh masing-masing satu genggam
mungkin mataharimu dilahap juga, lapar
ampun aku... ampun
ampuni aku, sungguh
derita ini, kerontang ini
aku yang cipta
engkau yang berdarah
apa palung, dasarnya cukup untuk lumatkan aku?

Alangkah indah dan syahdunya taman bunga ini ya, Magznia.

------

Jangan digoreng ya, kaka-kaka >_<

DREEMBOARD
[Oleh : Sunflower]

Gimana aku lima tahun lagi?
Sepuluh tahun lagi?

Aku jadi berpikir karena pertanyaan seseorang perihal kelak akan menjadi apa. Bukan sejenis pertanyaan cita-cita, tapi seperti sebuah pencapaian besar yang dalam jangka waktu tertentu bisa aku lihat hasilnya dan bisa aku rasakan pencapaiannya.

Tapi kenyataannya, banyak orang yang menjawab tidak tahu, atau rencananya masih abu-abu. Tapi sebenarnya semua itu bisa dilakukan mulai detik ini. Aku berinisiatif membuat Dreamboard diusaiku yang baru genap tujuh belas tahun. Muda? Iya, tapi gak akan muda lagi kalau lima tahun kedepan aku gak bisa apa-apa, atau setidaknya aku gak tahu apa tujuanku.

Suatu hari aku pernah dicemooh karena seperti anak kecil, membuat prakarya yang suka menempel gambar sana sini dan berhiaskan warna warni. Padahal, aku buat dengan sepenuh hati dan berisi apa keinginanku dan kemauanku, tak lupa juga bagaimana aku mewujudkannya.

"Apa ini?"

"Dreamboard." Dengan lantang aku menjawab saat kelas perkenalan di kampus. Aku tersenyum riang tapi yang lain justru mengernyit.

"Ah, kelak saat lulus kamu akan menjadi guru? Mulianya, lalu selama perjalanan menjadi guru kamu akan ah belajar giat, mencapai nilai A, melakukan rutinitas."

Dosen pembimbingku membaca rinci apa yang aku buat, meski sesekali terkekeh karena geli dengan kata-kataku atau ornamen hiasan yang aku tempel karena dari sisa koran maupun barang perca lain yang terkadang aku menggambarnya.

"Ini bagus, tapi boleh tahu kenapa kamu membuat membuat ini?"
Aku mengangguk seraya menatap dosenku lalu kembali menatap rekan kuliahku.

"Terlihat sepele, tapi dreamboard membantuku mencapai apa mimpiku. Dengan papan ini yang aku tempel tepat di meja belajar atau meja kerja membantuku fokus akan mimpi dan pencapaianku dengan terperenci dan terrencana. Dengan arti, dreamboard membantu dan mengingatkanku bagaimana bersinar kelak. Lima tahun lagi. Sepuluh tahun lagi, Dreamboard akan membantuku.

-----

‘If You Are Sunrise in One Day’ yang diekspresikan oleh Kak Sunrise sangat memukau. Ketika Kakak ini menjelma menjadi seorang Sunrise, ia mengekspresikan semangat yang menggebu dalam menggapai cita-cita. Gantunglah cita-citamu setinggi langit, agaknya direalisasikan Kak Sunflower dengan menggantung Dreamboard di meja kerja. Sangat patut dicontoh, lho, Magznia.

Dari segi kepenulisan, fiksi Kak Sunflower sudah termasuk rapi dan sangat menarik. Kesalahannya amat sedikit dan bisa dimaklumi. Di antaranya adalah penggunaan kata depan ‘ke’ dan ‘di’. Ada aturan harus diberi spasi dan tidak spasi.

Contoh:
Aku makan roti di warung.
[Spasi, kata berikutnya menunjukkan tempat]

Aku makan roti di malam hari.
[Spasi, kata berikutnya menunjukkan waktu]

Rotiku dimakan adik.
[Tidak spasi, kata berikutnya merupakan kata kerja]

Selain itu pentingnya sebuah konsistensi juga mempengaruhi rasa dan suasana sebuah fiksi. Pada fiksi Kak Sunflower terdapat salah satu inkonsistensi mengenai penggunaan kata ‘tidak’ dan ‘gak’. Kita tahu bahwa ragam bahasa Indonesia sangatlah banyak, ada bahasa formal dan bahasa gaul atau percakapan. Jika tulisan lebih rapi dan serasi itu akan membuat pembaca merasa lebih nyaman untuk masuk ke dalam cerita.

Namun, itu hanya beberapa kesalahan sedikit. Yang terpenting dari fiksi ini adalah bagaimana besarnya semangat, pentingnya kerangka jalan kehidupan, dan kecerahan jiwa serta hati kita. Jadilah seperti Sunrise yang selalu ceria dan menebarkan aura positif. Terima kasih, Kak Sunflower, atas fiksinya yang indah.

[CC1018PC]

Bahan :
250 gram Tepung Terigu Protein Sedang1/4 sdt Ragi atau Fermipan250ml Susu Full Cream
Cara membuat lukumades:
1. Hangatkan 250ml susu full cream.
2. Masukkan susu hangat ke dalam wadah yang berisi tepung dan ragi.
3. Aduk adonan hingga semua bahan tercampur rata.
4. Diamkan adonan selama lebih kurang 60 menit dalam kondisi wadah tertutup.Setelah itu, bentuk adonan menjadi bulatan ukuran kecil.
5. Panaskan minyak dan goreng lukumades hingga berwarna kecokelatan.
6. Angkat dan tiriskan. Setelah dingin sajikan lukumades dengan toping sesuai selera.
7. Rasa manis lukumades didapatkan dari topping yang kamu pilih.

Tips: Donat Yunani ini bercitarasa hambar, oleh karena itu disarankan kamu menambahkan madu, gula putih, SKM, atau cokelat manis sebagai topingnya.

Text

From : Anti Pink
To: Celia
Makasih udah jadi tokoh ikonik yg bikin gua yg pelupa ini gampang inget. makasih juga selalu ngasih2 hadiah padahal gua yakin gua tipe org yg self distancing tapi lu selalu coba deket. makasih intinya.

----

From : -
To : Kuma
Tetap semangat jadi matahari yang cerah.

----

From: -
To : Coba tebak
Itu yang pink sendiri di antara kuning-kuning oren bisa dipindahin ke Medicy sekalian aja nggak? Salam hijau.

----

From : -
To: Park Seul
Halo, wanita terbaik. Apa kabar? Kadang, cinta memang tak selalu membahagiakan. Akan ada masa sulit. Dalam banyak situasi dan kondisi, aku tau, aku pernah membuatmu kecewa. Aku tau kau akan mengatakan tidak dengan lantang tanpa setitik keraguan ketika aku mengutarakan perihal kekecewaanmu padaku.

Di kehidupan selanjutnya bolehkan aku berharap terlahir kembali dari rahimmu? Saranghae 💛

----

From : -
Untuk: Celia Palmer
Terima kasih, Celia, atas hadiah yang diberikan padaku tahun lalu. Aku juga masih menyimpan surat darimu dan dijaga dengan baik. Tulisan tanganmu cantik.